Mulai Terlupakan dan Tidak Lagi Dilakukan, Berikut 5 Tradisi Imlek

ITFBooks, Jakarta – Tahun Baru Imlek 2023 dirayakan kemarin, Minggu 22 Januari. Pesta Imlek maupun yang juga diujarkan Tahun Baru cina ini amat dinantikan oleh publik Tionghoa di Indonesia.

Pada Tahun Baru Imlek 2023 ini merupakan Tahun Kelinci Air maupun Year of the Water Rabbit yang diawali pada 22 Januari sampai 9 Februari 2024, tengah merambah Tahun Naga.

Tak diperbolehkan lengah, ada beberapa  Imlek yang normal dijalani publik Tionghoa. Salah satunya bagi-bagi angpao. Angpao yang dikasihkan itu dalam struktur sampul surat merah untuk anak-anak yakni hal yang amat ditunggu-tunggu.

Isi dari angpao merupakan uang kontan. Orang tua maupun pendamping yang telah menikah umumnya memberikan sampul surat yang diujarkan hong bao dalam bahasa Mandarin maupun lai see dalam bahasa Kanton ini pada anak-anak dan saudara lebih muda yang belum menikah.

Meski semacam itu, Imlek yang juga diujarkan Lunar New Year dan Chinese New Year mempunyai  yang nyaris diabaikan.

Selagi banyak orang di segala dunia merayakan Tahun Baru Imlek dengan, dalam publik Cina ini terhitung memberi lai see sampul surat kertas dan mengemil butir melon untuk menyulih panen yang banyak, ada Kerutinan lain yang mulai diabaikan di era modern ini.

Budaya Imlek yang dibiarkan misalnya membakar kusuma api besar-besaran. Salah satu narasi masyarakat Cina yang beken menggambarkan stori satu orang nian – homonim untuk ‘tahun’ dalam bahasa Mandarin – fauna mite yang normal menggila di pedalaman tiap-tiap tahun, memusnahkan rumah dan menyantap populasi pedalaman.

Warga pedalaman menciptakan kalau nian waswas dengan suara keras, jadi mereka menuangkan serbuk bahan peledak ke dalam batang bambu kering dan melemparkannya ke dalam api.

Kegemparan yang diperoleh saat mereka meledak akan buatnya waswas. Belakangan, petasan dikenakan untuk mengusir arwah kejam. Pemakaian kusuma api untuk kebutuhan individu, terhitung petasan, pernah dilarang di Hong Kong semenjak 1960-an sebab penyebab  keamanan. Hal yang sama resmi untuk banyak kota besar di Cina.

Tidak cuma itu, bagi legenda, dua hari pertama Tahun Baru Imlek juga yakni hari kelahiran Dewa Air, yang kecil hati saat orang memulihkan rambut dan busananya dengan air.

Selanjutnya sejajar  Imlek yang mulai dibiarkan dikumpulkan ITFBooks dari bermacam akar:

 

  1. Membuat Dewa Dapur gembira

Mewartakan South cina Morning, legenda china menuturkan Dewa Dapur, maupun Dewa Kompor, menyambangi tiap-tiap rumah tangga (serupa Sinterklas) sepanjang bulan ke-12 tahun lunar dan berkata kembali ke Kaisar Giok di langit perihal apa yang pernah dijalani tiap-tiap orang di tahun lalu.

Banyak keluarga akan memberikan makanan manis serupa kue gula, panekuk goreng, dan sup buncis saat sebelum Malam Tahun Baru Imlek sebagai persembahan pada dewa dapur, dengan tujuan dia akan menuturkan hal-hal manis perihal mereka sepanjang evaluasi mereka.

Tidak serupa Sinterklas, yang tidak diketahui menerima uang sogok uang, orang-orang akan menyongsong Dewa Dapur kembali ke kompor mereka dengan membakar ratus dan uang kertas joss.

Ritual ini sedikit terpandang saat ini, sebab banyak keluarga pernah mengimbit ke rumah modern yang tidak mempunyai tungku memasak konvensional .

 

  1. Membakar bunga Api Besar-Besaran

Salah satu narasi masyarakat Cina yang beken menggambarkan stori satu orang nian – homonim untuk ‘tahun’ dalam bahasa Mandarin – fauna mite yang normal menggila di pedalaman tiap-tiap tahun, memusnahkan rumah dan menyantap populasi pedalaman.

Warga pedalaman menciptakan kalau nian waswas dengan suara keras, jadi mereka menuangkan serbuk bahan peledak ke dalam batang bambu kering dan melemparkannya ke dalam api.

Kegemparan yang diperoleh saat mereka meledak akan buatnya waswas. Belakangan, petasan dikenakan untuk mengusir arwah kejam. Serangkaian petasan kecil dihidupkan pada tengah malam untuk menandakan ringkik tahun lama, seterusnya tiga petasan besar dihidupkan untuk menyongsong tahun baru. Kian keras mereka, kian baik kejayaan sepanjang 12 bulan ke depan.

Pemakaian kusuma api untuk kebutuhan individu, terhitung petasan, pernah dilarang di Hong Kong semenjak 1960-an sebab penyebab  keamanan. Hal yang sama resmi untuk banyak kota besar di Cina.

 

  1. Keramas Maupun Mengembalikan Rambut

Bagi legenda, dua hari pertama Tahun Baru Imlek juga yakni hari kelahiran Dewa Air, yang kecil hati saat orang memulihkan rambut dan busananya dengan air.

Ada juga keyakinan kalau, sebab “rambut” dalam bahasa Mandarin dan Kanton terdengar serupa “kaya”, memulihkan rambut berarti menghapuskan kejayaan untuk tahun yang akan datang. akhirnya, banyak orang menghindarkan memulihkan busana dan memulihkan rambut sepanjang dua hari itu.

Saat ini,  ini separuh besar diabaikan, lebih-lebih di wilayah subtropis di dunia serupa Hong Kong, yang udaranya kerap lembab dan berair.

 

  1. Membisu di Rumah saat Hari Ketiga Imlek

Hari ketiga Tahun Baru Imlek diketahui sebagai Hari Anjing Merah. Bagi narasi masyarakat Cina, Anjing Merah merupakan Dewa Kemarahan, yang berkeliaran pada hari ketiga tahun baru. Mereka yang berjumpa dengannya dipastikan akan bernasib jelek.

Seolah itu belum layak promosi anti-anjing, ‘scarlet dog’ berima dengan ‘scarlet mouth’, yang intinya bergaduh dengan keluarga dan orang sebelah.

Karna itu, banyak yang akan bermukim di rumah dan tidak menyambangi maupun menerima orang lain untuk menghindarkan pertemuan yang tidak disengaja dengan Anjing Merah.

Walaupun hal ini umumnya tidak lagi dijalani, karena orang-orang lebih menyeleksi untuk bersosialisasi dan terkumpul.

 

  1. Membersihkan Rumah Maupun Tidak Bersih-Bersih Sama Sekali

Tatkalanya menutup-nutupi pel dan sapu dari orang-orang di rumah, sebab kita tidak bisa membersihkan lantai sepanjang separuh hari pertama tahun baru.

Membersihkan lantai, membuang air, dan membuang kotor dari rumah selaku konvensional  menyimbolkan pupusnya keberhasilan dan kekayaan yang akan datang di tahun baru.

Dengan begitu, seluruhnya ini tidak akan dijalani untuk periode periode dua sampai lima hari. Ini boleh jadi kenapa banyak keluarga melaksanakan purifikasi penggeledahan waktu semi pada malam Tahun Baru Imlek saat mereka menuturkan aman bermukim pada tahun lalu.

Walaupun Kerutinan ini sedikit terpandang di kota-kota saat ini, namun tengah dipraktikkan di separuh pedalaman pedesaan Tionghoa.